Tampilkan postingan dengan label Strategi Belajar Mengajar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Strategi Belajar Mengajar. Tampilkan semua postingan

Kamis, 15 Maret 2012

Posting Yang Banyak Dikomentari Itu Posting Yang Seperti Apa

Setelah sekian lama blog ini saya buat sepi sekali komentar yang masuk. apa blog saya ini tidak ada pengunjungnya yaa? memang sih isi blog saya ini kurang menarik karena hanya berisi not angka lagu-lagu populer, dan sedikit resep masakan. Saya juga pernah posting tentang strategi belajar mengajar

yang saya dapatkan waktu kuliah dulu. jadi dari pada bingung mau posting apa lebih baik saya berbagi pengalaman saja mengenai putri pertama saya Asri Fakhirah Lukman(2 bulan) yang sering banget kagetan, entah saat tidur siang ataupun malam hari sehingga tidurnya kurang nyenyak. Bahkan mendengar suara buang anginnya sendiri terkadang ia kaget juga, kasihan saya ngeliatnya. Akhirnya saya mencoba memutarkan lagu-lagu yang ada di hape saya saat dia tidur siang, hasilnya kagetannya berkurang lho. jadi buat ibu-ibu yang punya anak sering kagetan, coba deh setel musik yang ibu-ibu suka. mudah-mudahan anak-anak yang kagetan tidak kagetan lagi.

Kamis, 28 Januari 2010

Hubungan Antara Proses Belajar Dengan Kegiatan Instruksional

Guru sebagai pengelola kegiatan belajar siswa, menentukan sejumlah tindakan instruksional yang bertujuan untuk mengatur kondisi ekstern, bahkan menciptakannya. Dalam hal ini guru berusaha untuk mengatur dan menciptakan kegiatan sedemikian rupa, sehingga menunjang proses belajar siswa dan tidak menghambatnya, usaha itu adalah dalam bentuk kegiatan-kegiatan instruksional. Jadi kegiatan instruksional pada dasarnya adalah merancang dan menciptakan seperangkat kondisi yang dapat mendukung terciptanya kondisi belajar pada diri sendiri. Pengaturan hubungan kegiatan instruksional dengan proses belajar yang terjadi pada diri siswa sangat menentukan keberhasilan kegiatan belajar mengajar.

Menurut teori pengelolaan informasi(WINKLE 1987) rangkaian fase-fase proses belajar di sekolah ada beberapa fase yaitu:
1. Fase Motivasi
2. Fase Konsentrasi
3. Fase Mengolah
4. Fase Menggali
5. Fase Prestasi
6. Fase Umpan Balik

Gagne mencoba menempatkan kedelapan tipe belajar itu dalam suatu tata urutan hirarkis, yaitu tipe belajar yang satu menjadi landasan bagi tipe belajar berikutnya, dan Gagne juga mengemukakan lima kemampuan belajar(five capabilities), informal verbal, kemampuan intelektual, strategi kognitif, ketrampilan motorik, dan sikap terutama dalam meninjau aspek "proses belajar".

Bloom juga mengemukakan ranah(domain) kawasan dalam hubungan dengan tujuan belajar, yang terdiri dari ranah/domain/kawasan, kognitif, psikomotorik, dan afektif. Untuk menggambarkan kaitan antara fase-fase belajar dengan kemungkinan kemampuan belajar yang dirancang guru, seperti informasi verbal, kemampuan intelektual, strategi kognitif, ketrampilan motorik, dan sikap.
Berikut ini disajikan hubungan konkrit dari fase-fase belajar:





Rabu, 27 Januari 2010

Pengajaran Kelompok(5-7 orang)

Pengajaran kelompok merupakan satu alternatif pengelolaan pengajaran disamping pengajaran klasikal dan pengajaran perorangan. Proses kelompok telah diyakini oleh banyak ahli sebagai suatu kekuatan yang dapat mempengaruhi atau meningkatkan kualitas belajar, dan kelompok dapat merupakan sarana yang efektif dalam proses belajar mengajar.

Pelaksanaan pengajaran kelompok sebagai berikut:
-Persiapan:

a. Menyiapkan satuan pelajaran dengan tugas kelompok, yang kemungkinannya dapat berbeda atau sama tugas atau materinya.
b. Menyiapkan pengaturan ruangan, penyediaan alat-alat bantu, alat penilaian, dan sebagainya.
c. Menyusun kegiatan belajar beserta petunjuk pelaksanaannya.

-Pelaksanaan:
a. Penlajaran diawali dengan pertemuan klasikal, guru memberikan informasi umum kepada semua siswa atau kelompok mengenai tujuan, kegiatan yang harus dilakukan, penggunaan alat atau sumber belajar dan hal-hal lain yang dianggap perlu.
b. Guru meminta kelompok untuk bekerja sesuai dengan tugasnya masing-masing pada tempat yang sudah ditentukan, dan batas waktu pengerjaan.
c. Guru melakukan monitoring setiap kelompok untuk mengetahui perkembangan masing-masing kelompok, dan memberikan bantuan bila dibutuhkan sampai pada batas yang ditentukan.
d. Kelompok berkumpul kembali dari masing-masing kelompok dan memberikan tanggapan seperlunya sebagai upaya mengumpulkan berbagai pengalaman, meminta atau memberikan balikkan dan memantapkan hasil belajar atau kerja.
e. Selama kegiatan melaporkan dan memberikan tanggapan, guru membantu atau membimbing bila diperlukan, dan berupaya untuk terciptanya interaksi antar siswa dan antar kelompok.
f. Siswa dan guru bersama-sama membuat rumusan atau kesimpulan untuk dimengerti dan diketahui seluruh siswa.

Selasa, 26 Januari 2010

Pengajaran Perorangan(individual)

Pengajaran perorangan(individual) merupakan suatu upaya memberikan kesempatan kepada siswa untuk dapat belajar sesuai dengan kebutuhan, kemampuan, serta caranya sendiri. Tujuannya adalah agar siswa dapat belajar secara optimal dan mencapai tingkat penguasaan terhadap materi yang dipersyaratkan.
Pengajaran perorangan dapat dilakukan melalui dua cara. Pertama, pengajaran perorangan untuk semua siswa. Kedua, pengajaran perorangan untuk beberapa siswa yang mempunyai kemampuan lebih dari rata-rata temannya, sementara siswa yang lain dengan pengajaran klasikal, seperti biasa.

Model pengajaran yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut:
a) Mengacu kepada tingkah laku

Model ini mementingkan tercapainya perubahan tingkah laku pada siswa.
b) Mengacu kepada pengalaman
Model ini mengutamakan pengalaman belajar yang beraneka ragam dan relevan serta bermanfaat bagi siswa.
c) Gabungan antara model mengacu kepada tingkah laku dan mengacu kepada pengalaman
Model gabungan ini mementingkan baik perubahan tingkah laku maupun pengalaman yang berharga bagi siswa. Model ini biasanya digunakan dalam topik-topik yang bersifat kreatif dan estetis.
Pelaksanaan model ini adalah sebagai berikut:
- Setelah siswa memperoleh tugas atau stuan pelajaran, kemudian guru menjelaskan tujuan dari pengajaran perorangan dan kegunaan materi yang dipelajari.
- Siswa mempelajari bahan-bahan yang tersedia secara bebas menurut cara dan gayanya masing-masing dengan menggunakan sumber-sumber yang tersedia.
- Guru melakukan bimbingan dan monitoring terhadap siswa secara bergiliran
- Setelah selesai pengajaran perorangan dilanjutkan pengajaran klasikal biasa.

Jumat, 22 Januari 2010

Model Mengajar Delikan

Model mengajar Delikan merupakan pengkajian hasil dari pengamatan terhadap praktek mengajar para guru di sekolah, terutama kegiatannya dengan penerapan CBSA.
Model mengajar delikan ini dikemukakan oleh Nana Sudjana dan Daeng Arifin, yang menekankan kepada kegiatan belajar siswa, dimulai dari kegiatan mendengar disusul dengan kegiatan kegiatan melihat dan diakhiri dengan kegiatan mengerjakan.
Dalam model ini tugas guru untuk memberi rangsangan kepada siswa dalam tiga hal yakni rangsangan pendengaran(auditif), rangsangan pengelihatan(visual) dan rangsangan pekerjaan(motorik). Dalam fase auditif dan visual sebenarnya merupakan salah satu ciri pokok mengajar yang berorientasi pada strategi ekspository. Sedangkan fase motorik sebagai akibat tuntutan rangsangan guru merupakan salah satu ciri model mengajar yang berorientasi pada strategi inquiry atau discovery.
Model mengajar delikan pada hakikatnya adalah model mengajar yang bergerak dari ujung ekspository ke ujung inquiry atau discovery. Dengar-lihat-kerjakan tidak hanya dipandang satu kesatuan tapi juga harus dipandang dalam satu urutan yang berkesinambungan.

Penerapan Model Delikan
Penerapan model delikan disesuaikan dengan tahapan mengajar yang terdiri atas tahap pra-instruksional, tahap instruksional, dan tahap evalusi tindak lanjut. Model ini digunakan pada tahap yang kedua. Tahap ini terbagi dalam tiga langkah yaitu mendengar, melihat, mengerjakan.
Dalam proses dengar bukan hanya guru menjelaskan sesuatu kepada siswa tetapi dalam bentuk lain seperti:
1. Siswa menjelaskan atau melaporkan apa yang telah diketahuinya mengenai bahan pelajaran yang akan dibahas waktu itu.
2. Guru memutar rekaman dengan menggunakan media audio yang berisikan penjelasan bahan pelajaran yang sengaja disiapkan guru sebelumnya.
Dalam proses lihat, dapat dilakukan berbagai cara seperti:
1. Guru atau siswa memperlihatkan terjadinya suatu proses atau demonstrasi suatu proses yang berkenaan dengan materi pelajaran yang telah dijelaskan dalam proses dengar.
2. Guru atau siswa menunjukkan gambar, diagram, grafik, foto, lide dan lainnya yang berkaitan dengan materi pelajaran.
3. Guru menuliskan pokok uraiannya di papan tulis sehingga dilihat atau dibaca oleh siswa,.
Dalam proses kerja dapat ditempuh berbagai cara:
1. Siswa mengerjakan soal atau tugas baik secara mandiri atau kelompok
2. Siswamemecahkan masalah melalui diskusi dengan teman-temannya
3. Siswa diminta merangkum atau menyusun materi pelajaran berdasarkan apa yang telah didengar dan dilihatnya
4. Siswa menyusun laporan tertulis
4. Siswa mencoba sendiri, misalnya melakukan eksperimen sendiri berdasarkan apa yang telah ketahui dalam proses dengar dan lihat sebelumnya.

Prosedur Instruksional Dengan menggunakan Berbagai Pendekatan dan Metode Mengajar

Strategi belajar mengajar(SBM) dalam pelaksanaannya menggunakan satu/beberapa metode mengajar yang merupakan alat dan cara untuk melaksanakan strategi belajar mengajar dengan sendirinya metode mengajar merupakan alat pula untuk mencapai tujuan belajar.
Dalam kegiatan instruksional seorang guru dapat memilih secara lebih tepat serta menggunakannya lebih efektif dari suatu strategi belajar mengajar. Upaya ini dimaksudkan untuk dapat menciptakan sistem lingkungan belajar mengajar yang efektif, yang menunjuk pada "berperan aktifnya" siswa dalam proses belajar mengajar.
Sebagai kerangka acuan untuk memahami yang pada akhirnya dapat dijadikan dasar untuk memilih dan untuk menentukan prosedur instruksional mana yang tepat dalam mencapai tujuan instruksional, berikut ini disajikan beberapa aspek yang perlu diperhatikan:
1. Pengaturan guru-siswa dalam kegiatan belajar mengajar(KBM)
2. Struktur peristiwa belajar mengajar
3. Peranan guru di dalam mengolah pesan
4. Proses pengolahan pesan
5. Tujuan Belajar
6. Model instruksional yang digunakan

Model instruksional dikelompokkan menjadi 4 rumpun yaitu:
a. Model interaksi sosial
b. Model pemrosesan/pengolahan informasi
c. Model personal Ilumanistik
d. Model perilaku/modifikasi tingkah

3 komponen kegiatan instruksional:
1. Komponen pendahuluan
Yaitu kegiatan instruksional yang didalamnya meliputi kegiatan menumbuhkan motivasi dan menyadarkan akan tujuan belajar, juga kegiatan mengarahkan siswa dalam komponen ini dapat diciptakan aktualisasi kegiatan dengan berbagai prosedur.
2. Komponen Penyajian
Merupakan komponen kegiatan instruksional yang terdiri dari kegiatan membantu mengolah informasi, menggali informasi dari ingatan, dan mendampingi siswa selama memberikan pelatihan. Komponen ini merupakan komponen inti, di mana peran guru adalah menjelaskan atau menguraikan materi yang harus dipelajari, memberikan contoh-contoh yang relevan dan memberi kesempatan untuk menampilkan kemampuan siswa.

Aktualisasi kegiatan instruksional di bawah ini dapat dijadikan bahan pertimbangan dalam menentukan urutan prosedur mana yang digunakan dalam kegiatan penyajian:
Prosedur I:
Disebut juga dengan prosedur tradisional atau konservatif yang dimulai dengan suatu pengertian konsep, prinsip atau prosedur serta diikuti oleh contoh-contoh yang relevan dalam kehidupan sehari-hari.
Prosedur II:
Penyajian dimulai dengan pemberian contoh atau kasus yang diikuti dengan latihan memecahkannya dan diakhiri dengan uraian atau generalisasi dari isi materi pelajaran.
Prosedur III:
Penyajian didahului dengan pemberian latihan atau percobaan yang diikuti dengan uraian yang diakhiri dengan contoh.
Prosedur IV:
Penyajian dimulai dengan pemberian contoh disertai uraian tentang konsep, prinsip atau prosedur dan diakhiri dengan latihan penerapannya.
Prosedur V:
Penyajian diawali dengan pemberian uraian tentang konsep, prinsip, prosedur yang dipelajari diikuti dengan latihan untuk menguasainya dan diakhiri dengan latihan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.
Prosedur VI:
Penyajian dimulai dengan melakukan kesempatan mencoba terlebih dahulu kemudian diikuti dengan contoh sebagai perbandingan dan diakhiri dengan uraian atau kesimpulan.

3. Komponen penutup
Pada komponen ini guru secara tetap memberikan atau menerapkan urutan kegiatan tes formatif dan umpan balik dilanjutkan dengan kegiatan tindak lanjut berupa petunjuk dari guru tentang apa yang harus dilakukan siswa sehubungan dengan hasil kemajuannya(prestasi belajarnya)

Jumat, 18 Desember 2009

KLASIFIKASI STRATEGI BELAJAR MENGAJAR

1. Berdasarkan Bentuk Pendekatannya

a. Ekspository dan Discovery/Inquiry
Dari hasil penelitian Edwin Fentoh diketahui bahwa strategi belajar mengajar yang banyak digunakan oleh para guru bergerak pada satu garis kontinum. Dari garis tersebut dapat dijelaskan bahwa guru hanya memberikan informasi yang berupa teori generalisasi hukum atau dalil beserta bukti-bukti yang mendukung dan siswa hanya menerima saja informasi dari guru.

b. Discovery dan Inquiry
Discovery(penemuan) sering dipertukarkan pemakaianny dengan inquiry(penyelidikan). Gunal berpendapat bahwa discovery atau(penemuan) adalah proses mental dimana siswa mengimplementasikan suatu konsep atau prinsip proses mental.
misalnya: mengamati, menjelaskan, mengelompokkan, membuat kesimpulan, dan sebagainya. Sedangkan konsep misalnya: bundar, segitiga, demokrasi, energi, dan sebagainya.
Inquiry merupakan perluasan dari discovery yang digunakan lebih mendalam artinya inquiry mengandung proses mental yang lebih tinggi tingkatanya. Misalnya merumuskan problema, merancang eksperimen, melaksanakan eksperimen, mengumpulkan ide, menganalisis dan lain-lain.
DR. J. Richard Juchman mencoba mengalihkan kegiatan belajar mengajar dari situasi yang didominasi diskusi, seminar, dan sebagainya. Salah satu bentuknya disebut pelajaran dengan penemuan terpimpin, langkah-langkahnya sbb:
1.Adanya problema yang akan dipecahkan, yang dinyatakan dengan pernyataan/pertanyaan.
2. Jelas tingkat/kelas
3. Konsep/prinsip jelas
4. Alat/bahan sesuai dengan kebutuhan siswa
5. Diskusi sebagai pengarahan sebelum siswa melakukan kegiatan
6. Kegiatan metod penemuan berupa penyelidikan/percobaan
7. Proses berfikir untuk menunjukkan adanya mental operasional siswa
8. Pengembangan pertanyaan-pertanyaan
9. Adanya catatan guru yang meliputi hal-hal dan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi hasil penyelidikan
Sedangkan langkah-langkah inquiry menurut dia adalah sebagai berikut:
1. Menentukan masalah
2. Pengumpulan data untuk memperoleh kejelasan
3. Pengumpulan data untuk mengadakan percobaan
4. Perumusan keterangan yang diperoleh
5. Analisis proses inquiry

c. Pendekatan Konsep
Akibat dari suatu hasil belajar adalah konsep. Gagne mengatakan bahwa selain konsep konkret yang bisa kita pelajari melalui pengamatan, mungkin juga ditunjukkan melalui definisi atau batasan, karena merupakan sesuatu yang abstrak.

d. Pendekatan Cara Belajar Siswa Aktif(CBSA)
Pendekatan ini berarti bahwa di dalam kelas harus terdapat kegiatan belajar yang mengaktifkan siswa(melibatkan siswa secara aktif)
Hakikat CBSA adalah proses keterlibatan intelektual-emosional siswa dalam kegiatan belajar mengajar yang memungkinkan terjadinya:
- Proses asimilasi/pengalaman kognitif yang memungkinkan terbentuknya pengetahuan
- Proses perbuatan/pengalaman langsung yang memungkinkan terbentuknya ketrampilan
- Proses penghayatan dan internalisasi nilai yang memungkinkan terbentuknya nilai dan sikap
1. Prinsip-prinsip CBSA
a. Dimensi subjek didik
b. Dimensi guru
c. Dimensi program
d. Dimensi situasi belajar mengajar
2. Rambu-rambu CBSA
Rambu-rambu CBSA adalah perwujudan prinsip-prinsip CBSA yang dapat diukur dari rentangan paling rendah sampai pada rentangan yang paling tinggi, yang berguna untuk menentukan tingkat CBSA dari suatu proses belajar mengajar.
Kadar CBSA dapat ditentukan berdasarkan:
a. Berdasarkan pengelompokan siswa
Ditinjau dari segi waktu, ketrampilan, alat, serta media dan perhatian guru, pengajaran yang berorientasi pada kelompok-kelompok kadang-kadang lebih efektif.
b. Berdasarkan kecepatan masing-masing siswa
Contoh untuk strategi belajar mengajar berdasarkan kecepatan siswa adalah pengajaran modul.
c. Pengelompokan Berdasarkan Kemampuan
Pengelompokan yang homogen harus didasarkan pada kemampuan siswa. Siswa akan mengembangkan potensi secara optimal bila berada di sekeliling teman yang hampir sama tingkat perkembangan intelektualnya.
d. Berdasarkan domain-domain tujuan
Strategi belajar mengajar berdasarkan domain/kawasan/tanah tujuan dapat dikelompokkan yaitu:
-Menurut Benjamin S. Bloom CS ada 3 dimensi yaitu:
a. Domanin kognitif, yang menitikberatkan aspek cipta
b. Domain afektif, aspek sikap
c. Domain psikootor, untuk aspek gerak
-Meneurut Gagne terdapat 5 macam kemampuan yaitu:
a. Ketrampilan intelektual
b. Strategi Kognitif
c. Informasi verbal
d. Ketrampilan Motorik
e. Sikap dan Nilai
-Menurut Bruce Joyce dan Marcha Well rumpun model-model mengajar yaitu:
a. Rumpun Model Interaksi Sosial
b. Rumpun Model Pengelolaan informasi
c. Rumpun Model Personal Humanistik
d. Rumpun Model Modifikasi Tingkah Laku

Menurut T. Raka Joni, kerangka acuan yang dapat digunakan untuk memahami strategi belajar mengajar sbb:
1. pengaturan Guru Siswa
- Dari segi pengaturan guru dibedakan antara: pengajaran yang diberikan oleh seorang guru atau oleh tim.
- Hubungan guru siswa dibedakan: hubungan guru-siswa melalui tatap muka secara langsung ataukah melalui melalui media cetak maupun media audio visual
- Dari segi siswa, dibedakan antara: pengajaran klasikal(kelompok besar) dan kelompok kecil(antara 5-7 orang) atau pengajaran individual(perorangan)
2. Struktur peristiwa belajar mengajar
Struktur peristiwa belajar dapat bersifat tertutup dalam arti segala sesuatunya telah ditentukan secara ketat, misalnya guru tidak boleh menyimpang dari persiapan mengajar yang telah direncanakan.
3. Peranan guru-siswa dalam mengolah pesan
Tiap peristiwa belajar-mengajar bertujuan untuk mencapai suatu tujuan tertentu, ingin menyampaikan pesan, informasi, pengetahuan dan ketrampilan tertentu kepada siswa.
4. Proses Pengolahan pesan
Dalam peristiwa belajar mengajar, dapat terjadi bahwa proses pengolahan pesan bertolak dari contoh-contoh kongkret atau peristiwa-peristiwa khusus kemudian diambil suatu kesimpulan(generalisasi atau prinsip-prinsip yang bersifat umum).

Selasa, 08 Desember 2009

Rumpun Model Mengajar Pemrosesan Informasi

Rumpun model ini terdiri atas model mengajar yang menjelaskan bagaimana cara individu memberi respon yang datang dari lingkungan dengan cara mengorganisasikan data, memformulasikan masalah, membangun konsep dan pemecahan masalah dengan menggunakan simbol-simbol verbal dan nonverbal.

Model Pemrosesan Informasi:
1. Model Berpikir Induktif(Induktif Thinking Model)
Teori ini dikemukakan oleh Hilda Taba, tujuan dari model ini adalah pembentukan berpikir induktif yang banyak diperlukan untuk kegiatan akademik dan pembentukan teori.

2. Model Latihan Inkuiri(Inquiry Training Model)
Model ini dikemukakan oleh RichardSuchman, tujuan dari model ini yaitu melatih atau menolong siswa mengembangkan disiplin intelektual dan ketrampilan yang dibuyuhkan sehingga siswa mampu melakukan penyelidikan secara bebeas tetapi dalam cara yang teratur.

3. Inkuiri IPA(Scientific Inquiry)
Model ini diciptakan oleh J.J. Schwab. Model ini dimaksudkan untuk memiliki kemampuan berpikir melalui penelitian alam.

4. Model Perkembangan Konsep(Concept Attainment)
Model ini dikemukakan oleh Jerome Bruner, dengan maksud untuk membentuk konsep yang benar secara induktif sehingga siswa memiliki kemampuan analisis.

5. Model Pertumbuhan Kognitif(Cognitive Growth)
Model ini muncul dari teori-teori Jean Piaget, Irving Sigel, Edmun Silivan dan Lawrence Kohlberg. Dengan maksud agar siswa memeiliki kemampuan umum berpikir logis. Dan juga dapat diterapkan pada perkembangan sosial dan moral yang baik.

6. Model Bahan Pengait(Advance Organizer)
Melalui model ini David Ausubel mempunyai tujuan agar siswa memperoleh ilmu secara efisien sehingga dimiliki suatu ilmu yag utuh dan bermakna dengan menggunakan bahan pengait.